Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Januari 2013

Duh! Pesawat Mendarat Darurat Gara-gara Roti Sandwich

Pesawat milik maskapai Virgin Australia terpaksa mendarat darurat di Darwin Australia. Seorang penumpang mendadak mengamuk di dalam kabin pesawat, gara-gara... roti sandwich.

Penerbangan Virgin Australia dengan nomor penerbangan DJ1432 terbang dari Darwin dengan tujuan Perth pada Kamis (10/1/2013) pukul 07.00 pagi waktu setempat. Namun, baru saja terbang satu jam, ada seorang penumpang yang mengamuk.

Si penumpang ribut gara-gara sandwich seharga AUD 10 (Rp 104.600). Entah dirasa terlalu mahal atau ada masalah dengan rasanya, yang jelas si penumpang itu terpaksa diseret ke barisan belakang tempat duduk. Pramugari memblok sisi kanan dan kiri tempat duduk si penumpang yang mengamuk itu.

"Dia mengamuk dan teriak-teriak. Nggak parah amat, tapi dia mengganggu beberapa anak kecil di pesawat," kata seorang penumpang seperti dilansir The NT News.

Begitu mendarat di Darwin, si penumpang itu diamankan polisi. Namun tidak diketahui apakah dia dipidana atau tidak.

Jubir Virgin Australia, Melissa Thompson mengatakan pesawat sudah melanjutkan perjalanan. Semua penumpang di pesawat tersebut mendapatkan jadwal penerbangan baru dan sudah tiba di Perth pukul 22.00 waktu setempat. Ada-ada saja...

Selasa, 08 Januari 2013

Perwira Harus Bisa Berenang

Kesiapan mental dan fisik bagi seorang prajurit dalam mendukung pelaksanaan tugas merupakan kebutuhan mutlak yang harus disiapkan secara maksimal. Kedepan, sesuai peraturan yang berlaku saat ini, aspek fisik sangat menentukan karier prajurit yang bersangkutan, sehingga para prajurit khususnya perwira yang memiliki tugas dan tanggung jawab lebih berat harus pintar membagi waktu untuk membina fisik masing-masing (postur, kesegaran jasmani dan ketangkasan) baik secara kolektif maupun perorangan.  

Materi ketangkasan "renang" merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang prajurit sebagai persyaratan mutlak untuk mengikuti pendidikan maupun usulan kenaikan pangkat. 
Untuk itu para perwira harus menyiapkan diri dengan baik, meluangkan waktu untuk melaksanakan latihan renang jarak 50 m gaya dada.

Sebagai seorang Perwira malu apabila tidak bisa renang. Renang yang diujikan dalam setiap kesemaptaan periodik, UKP serta pendidikan lanjutan seperti Diklapa, Sesko ataupun kursus adalah renang dasar, yaitu renang sejauh 50 meter menggunakan pakaian PDL Loreng lengkap dengan kaos dalamnya (tanpa sepatu dan senjata). Hal ini mutlak dikuasai oleh seorang prajurit. Tak ada kata tidak bisa apabila kita berlatih dengan serius. Prajurit yang sering kita lihat sangat profesional di lapangan bukannya prajurit yang hebat, melainkan ia adalah prajurit yang terlatih. Sekali lagi malu apabila seorang Perwira tidak bisa berenang.


Senin, 07 Januari 2013

Akibat-akibat Keseringan Mengupil


Bagi beberapa orang mengupil adalah kegiatan yang mengasyikkan atau menyenangkan. Tapi mengupil terlalu sering ternyata bisa berbahaya bagi kesehatan dan tubuh seseorang.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim peneliti dari Wisconsin dengan melibatkan 200 partisipan, diketahui bahwa rata-rata seseorang mengupil sebanyak 4 kali sehari yang dilakukan saat sedang senggang atau santai.
Mengupil adalah kegiatan yang positif karena membantu membersihkan hidung dari kotoran atau benda asing yang masuk dengan menggunakan jari. Meskipun kegiatan yang umum, tapi bagi budaya tertentu cenderung tabu karena bisa menimbulkan perasaan jijik dan geli.
Upil yang ada di hidung sebenarnya terbentuk dari lendir yang mengering. Membran mukosa di rongga hidung akan terus menerus menghasilkan lendir basah yang berfungsi menghilangkan debu dan benda-benda asing lainnya yang masuk ke hidung. Lendir yang mengering ini akan menyebabkan sensasi iritasi yang kadang menimbulkan rasa gatal dan memicu orang untuk mengupil.
Seperti dikutip dari eHow,  ada beberapa alasan yang membuat seseorang harus mengupil, yaitu:
Sedang bengong atau memikirkan sesuatu
Penyebab paling umum orang mengupil terjadi ketika seseorang sedang tidak memikirkan apa-apa, bingung atau bosan. Tindakan ini hampir sama dengan kebiasaan menggigit kuku atau mengisap jempol, karenanya tak jarang orang tanpa sadar melakukannya di depan umum.

Menghilangkan iritasi
Hidung memiliki kecenderungan menjadi kering dan teriritasi oleh hal-hal seperti alergi, bahan kimia dan polusi udara. Saat hidung mengalami iritasi, maka akan timbul rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk melalui cara mengupil.

Untuk menghilangkan sekresi hidung
Ketika sedang pilek, infeksi sinus dan alergi bisa menyebabkan sekresi hidung atau lendir meningkat. Sekresi ini seiring waktu akan mengering yang membuat seseorang sulit bernapas. Karenanya seseorang akan mengupil untuk membuat napasnya lega dan menghilangkan penumpukan lendir.

Gangguan obsesif-kompulsif
Salah satu tanda gangguan obsesif kompulsif adalah suka mengupil yang disebut dengan rhinotillexomania. Mengupil dilakukan untuk meringankan perasaan-perasaan negatif yang mengganggu pikirannya, karenanya seringkali ia mengupil di depan umum dan tidak melihat kondisi di sekitarnya. Orang dengan gangguan ini membutuhkan bantuan medis atau psikolog.

Satu hal yang pasti adalah selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah mengupil, memotong kuku dan jangan menarik upil terlalu keras agar tidak melukai lapisan di dalam hidung.
Tapi jika seseorang terlalu sering mengupil bisa menyebabkan hidung menjadi kering yang dapat memicu perdarahan. Hal ini karena secara alami hidung tetap membutuhkan pelumas setiap saat untuk mencegahnya dari kekeringan.
Sedangkan jika seseorang jarang mengupil, maka lendir yang bercampur dengan kotoran tersebut akan semakin mengeras yang menghambat pernapasan (sulit bernapas) serta membuat hidung tidak lagi bisa efektif menyaring benda-benda asing dari luar.
Akibat keseringan mengupil adalah:
1. Mudah terkena flu
Virus flu bisa melewati selaput lendir yang salah satunya terdapat di dalam hidung. Memasukkan jari-jari yang terkontaminasi virus ini ke dalam hidung bisa menyebabkan seseorang terkena flu yang disebabkan oleh diri sendiri. Dalam beberapa hari ke depan, seseorang bisa saja mengalami flu, tenggorokan gatal dan serangan bersin-bersin.

2. Mimisan
Jika terlalu sering mengupil atau mengupil dengan keras bisa menyebabkan kerusakan pada lapisan di hidung yang berfungsi melindungi tubuh dari bakteri dan benda-benda asing di udara, sehingga memicu terjadinya mimisan.

3. Infeksi
Selain infeksi virus flu, terlalu sering mengupil menyebabkan kuman dan bakteri lebih mudah masuk ke hidung dan menyebar ke bagian tubuh lain.

4. Merontokkan rambut hidung
Ketika mengupil secara konsisten dna terus menerus akan menyebabkan rambut hidung rontok. Padahal rambut ini memiliki fungsi penting untuk menyaring debu dan polutan di udara. Tanpa rambut hidung akan membuka jalan bagi semua jenis penyakit dan infeksi masuk ke dalam tubuh.

5. Bisa meninggal
Kondisi ini bisa terjadi jika seseorang berusaha mengeluarkan upil yang besar. Karena di dalam hidung ada tulang yang disebut tulang ethmoid, tulang ini memisahkan hidung dari otak. Jika saat mengupil seseorang menusuk tulang ini, maka cairan di otak bisa bocor yang menyebabkan meningitis.

Minggu, 30 Desember 2012

Jelang Tahun Baru, Jalan Menuju Pantai Kuta Ditutup

Denpasar - Untuk memperlancar perayaan tahun baru di kawasan Pantai Kuta, Direktorat Lalu Lintas Polda Bali akan menutup akses jalan ke kawasan tersebut Senin (31/12) besok sejak pukul 16.00 WITA hingga perayaan tahun baru selesai.

Kepolisian juga akan membersihkan kendaraan dan tempat-tempat parkir di sepanjang Jalan Raya Legian- Jalan Pantai Kuta- Jalan Melasti Kuta dan kawasan sekitarnya dimulai dari pukul 14.00 Wita. 

"Untuk lokasi parkir, kami sudah sediakan tempatnya di beberapa tempat di antaranya di Central Parkir Kuta," kata Kabid Humas Polda Bali, Kombes Polisi Hariadi, kepada wartawan, Minggu (30/12/2012). 

Beberapa ruas jalan menuju ke Pantai Kuta akan dialihkan. Seperti jalan menuju Pantai Kuta dari arah Jalan Dewi Kartika akan ditutup dan diarahkan menuju Jalan Singasari -Jalan Ciungwanara-Simpang Bemo Corner.

Lalu simpang Dewa Ruci-Jalan Imam Bonjol dan Jalan By Pass Ngurah Rai Kuta. Kepolisian mengimbau masyarakat untuk berhati-hati lantaran jalur-jalur menuju Pantai Kuta akan sangat padat. Selain itu, masyarakat juga diminta tertib dan mentaati peraturan yang sudah ditetapkan. 

Untuk memperlancar perayaan tersebut, kepolisian juga menerjunkan ratusan personelnya di Pantai Kuta, serta pusat-pusat keramaian di kawasan tersebut.

Minggu, 07 Oktober 2012

Anggota Polres Karangasem Babak Belur Dipukuli Preman



Seorang anggota Polres Karangasem, babak belur setelah dihajar preman. Pemicunya sepele, hanya karena ia menyalip mobil yang dikendarai preman.

Iptu I Nengah Mulyadi tak menyangka jika ia akan babak belur dihajar preman. Apalagi penyebabnya sepele, yakni gara-gara menyalip mobil yang dikendarai preman berinisial NS, saat hendak menuju Polres Karangasem.

Tak terima disalip oleh Mulyadi, NS menghetikan paksa mobil Mulyadi. Saat Mulyadi membuka kaca mobilnya, NS langsung melancarkan tinjunya berkali-kali di wajah Mulyadi. Akibatnya wajah anggota polisi ini pun babak belur.

Kasubag Humas Polres Karangasem, Ajun Komisaris Made Wartama mengatakan, pemukulan itu dipicu ketersinggungan preman NS.

"NS tidak terima mobilnya disalip. Dia mengejar dan menghentikan paksa mobil korban. Saat korban membuka kaca mobilnya, NS langsung memukuli," kata Wartama,(5/10/2012).

Saat terjadi pemukulan, Mulyadi sempat mengatakan jika dirinya adalah anggota kepolisian. Namun hal itu tidak menciutkan nyali NS.

"Anggota kami sempat mengatakan jika dirinya adalah anggota kepolisian. Tapi NS mengatakan tidak takut sambil terus memukuli," tutur Wartama.

NS ditangkap polisi di sekitar Kecamatan Kubu, Karangasem. Dari pemeriksaan sementara terungkap bahwa NS juga seorang yang masuk dalam target operasi Satuan Narkoba Polres Karangasem.

Satgas Yonif 312/Kala Hitam Kibarkan Merah Putih Di Perbatasan RI-RDTL


Satgas Yonif 312/Kala Hitam Brigif 15 Kujang II Kodam III/Siliwangi yang sedang melaksanakan tugas operasi pengamanan perbatasan di daerah Atambua Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan Republik Demokrat Timor Leste (RDTL) bersama-sama dengan masyarakat merayakan peringatan HUT Ke-67 RI di Desa Haumeniana Kabupaten Belu NTT Jum;at, (17/08).

Selain melaksanakan upacara peringatan HUT ke-67 RI, Satgas Yonif 312/KH yang berkuatan 650 personel akan bertugas selama  enam bulan sampai Desember 2012 juga mengadakan berbagai kegiatan perlombaan bagi masyarakat di sekitar pos-pos perbatasan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menumbuhkan rasa kebangsaan dan persatuan diantara masyarakat serta kemanunggalan dengan prajurit TNI. Untuk memeriahkan dan meningkatkan rasa kebangsaan tersebut Satgas Yonif 312/KH memasang bendera Merah Pitih  dan umbul-umbul di sepanjang daerah perbatasan.
Sementara itu, dalam rangka meningkatkan kemanunggalan TNI-Rakyat, Satgas Yonif 312/KH menyelenggarakan karya bakti  dan kegiatan sosial antara lain pelatihan bela negara dan PBB, membersihkan sarana ibadah, memperbaiki sarana pendidikan, dan sarana umum, membagikan sembako, pengobatan masal, sholat tarawih dan sholat Ied bersama masyarakat  serta melakukan silaturahmi dengan tokoh agama, pemuda dan tokoh masyarakat setempat.
Menurut Dansatgas Yonif 312/KH Mayor Inf Hengki Yuda Setiawan, dalam kurun waktu satu bulan  melaksanakan tugas Pengamanan wilayah perbatasan Satgas 312/KH telah berhasil mendapat 4 pucuk senjata rakitan, bahan peledak dan penggagalan penyelundupan di jalan pelintasan illegal, 5 unit Sepeda motor dan 600 liter BBM serta kegiatan illegal lainnya

Oknum TNI Terlibat Perampokan Rumah Mewah di Menteng

Direncanakan sejak lama, pelaku bahkan menikahi pembantu rumah itu.
JAKARTA - Aparat Subdit Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengamankan tujuh orang pelaku perampokan rumah mewah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Kerugian atas perampokan tersebut mencapai Rp3 miliar.
Para pelaku yang berhasil diamankan yakni MGWA alias GR, GB, YH alias YS, AN alias RB, S alias AG, SM dan YN. Dari tujuh pelaku, diketahui ada salah satu oknum TNI AD yang terlibat merampok lima brankas di rumah milik Bahrum Karim di Jalan Diponegoro No.7, tidak jauh dari rumah dinas Wakil Presiden Boediono.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Toni Harmanto, menjelaskan, perampokan tersebut sudah direncanakan oleh 12 orang pelaku yang enam di antaranya masih dalam pengejaran pihak kepolisian.
"Para pelaku sudah membagikan perannya masing-masing, salah satu pelaku yang berinisial YH bahkan sudah menikahi pembantu rumah tersebut. Mereka sudah menikah selama 6 bulan," ujar Toni dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Minggu (7/10).
Toni menjelaskan, setelah menikah dengan pembantu rumah tangga tersebut, YH akhirnya mencari informasi mengenai di mana saja letak barang-barang berharga milik majikan istrinya itu yang dimasukkan ke dalam lima buah brankas.
Setelah itu, Toni melanjutkan, para pelaku langsung merencanakan aksi perampokannya dengan cara menentukan waktu saat penghuni sedang tidak ada di rumah. Akhirnya, tujuh orang tersebut membaginya menjadi tiga kelompok.
"Cara pelaku masuk ke dalam rumah korban yakni berpura-pura sebagai tamu dan langsung melumpuhkan satu orang satpam yang ada di pintu gerbang serta dua orang pembantu. Setelah berhasil melumpuhkan korban, kemudian pelaku lain memasuki rumah tersebut dan masuk menuju lantai 1 dan 2," kata Toni.
Peran Oknum TNI
Terkait dengan keterlibatan oknum TNI yang berinisial GB, menurut Toni, saat ini pihaknya sudah melimpahkan yang bersangkutan ke POM TNI untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara itu, enam orang pelaku lainnya masih diproses di Polda Metro Jaya.
Dari keterangan GB, dia yang menyuplai senjata untuk merampok rumah mewah itu. Dua buah senjata api jenis pistol FN dan dua buah magasin serta 73 butir anak peluru disediakan GB untuk membekali aksi kelompok kolaborasi ini.
"Awalnya hanya untuk menakut-nakuti, tetapi jika korban melawan, diduga akan ditembak menggunakan senjata tersebut. Kami masih dalami dari mana pelaku mendapatkan senjata itu. Karena, jika dilihat dari pangkatnya, tidak memungkinkan itu senjata organik dari kesatuannya," jelas Toni.
Barang bukti yang berhasil diamankan di antaranya adalah dua buah senjata api jenis pistol FN berikut dua buah magasin serta 73 butir peluru, uang tunai sejumlah Rp127.300.000, uang tunai US$2.600, 21 pasang anting, 14 bundel cincin, 6 bundel cincin, 10 bundel anting pendek, 250 bundel kalung, 10 bundel cincin, dan 150 bundel kalung.
Selain itu, terdapat satu unit mobil Daihatsu Xenia, satu unit mobil Honda Jazz, satu unit sepeda motor Kawasaki Ninja, satu unit sepeda motor Yamaha Bison, beberapa buah handphone, dan sebuah brangkas warna hitam ukuran 100 cm x 50 cm.
Sementara Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Helmi Santika, menjelaskan, tujuh orang pelaku mempunyai peran yang berbeda-beda. Dari peran tersebut, pelaku juga mendapatkan uang hasil rampokan itu sesuai dengan pekerjaannya. Total, rampokan mereka bernilai sekitar Rp3 miliar.
"Otak dari pelaku perampokan ini adalah GR. Kelompok ini sudah melakukan aksinya di Garut dan Pajajaran Bandung, tetapi di sana tidak ada hasil," ujar Helmi. Helmi menambahkan, GR selanjutnya melakukan perencanaan aksi perampokan bersama dengan GB (oknum anggota TNI AD), SM, S alias AG, AN alias RB, NAS (belum tertangkap), dan SUL (belum tertangkap) di rumahnya yang beralamat di Mekarsari, Cimanggis Kodya Depok, Jawa Barat.
Dari situ, mereka membagi perannya masing-masing. GR berperan sebagai perencana aksi perampokan dan menyediakan alat berupa dua pucuk senjata api FN berikut amunisi dan sarana transportasi untuk melakukan aksi perampokan.
"Dia mendapatkan bagian hasil kejahatan berupa uang tunai senilai Rp107.300.000. Sedangkan GB berperan untuk mencari orang yang diajak beraksi melakukan kejahatan, dia mendapatkan Rp20 juta dan beberapa macam perhiasan emas," kata Helmi.
Sementara itu, YH alias YS berperan memberikan informasi gambaran situasi dan kondisi rumah korban, dia mendapatkan uang senilai Rp53 juta. Dia juga yang menikahi pembantu rumah tangga di tempat korban.
Tersangka SUL (belum bertangkap), Helmi melanjutkan, berperan menyampaikan informasi dari YH kepada GR. Tersangka SM berperan membuang brankas hasil curian ke Cianjur, Jawa Barat. Mendapatkan upah sebesar Rp20 juta.
Tersangka S alias AG berperan masuk ke dalam rumah dan menggotong brankas, dia mendapat jatah Rp60 juta dan beberapa macam perhiasan.
Tersangka AN alias RB berperan masuk ke dalam rumah dan menggotong brankas, dia mendapatkan upah Rp150 juta. Tersangka Nasikin (belum tertangkap) berperan mengajak AR, KS, DE, dan BY untuk menggotong brankas.
"Aksi pencurian ini dilakukan dengan membagi kelompok. Mobil Suzuki APV berisi 3 orang pelaku yang dipimpin tersangka GR. Mobil Daihatsu Xenia berisi 4 pelaku yang dipimpin NAS, dan mobil Toyota Inova berisi 3 orang pelaku yang dipimpin oleh tersangka AN alias RB," jelas Helmi.
Pengintaian para pelaku terhadap rumah tersebut telah dilakukan selama dua pekan. Polisi masih menyelidiki apakah para pelaku juga melakukan kejahatan di tempat lain atau tidak.
"Masih kami kembangkan apakah baru di Menteng saja atau ada di tempat lain," ujar Kepala Unit II, Subdit Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya, Komisaris Budi Hermanto.


HUT TNI KE-67 DI KODAM IX/UDAYANA

Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI Wisnu Bawa Tenaya bertindak selaku Inspektur Upacara pada peringatan HUT Ke-67 Tentara Nasional Indonesia yang digelar di Museum Seni Lukis klasik Bali Nyoman Gunarsa pada Jumat, (5/10).

Telah terbukti dalam sejarah bahwa TNI lahir dari perjuangan Bangsa Indonesia, tumbuh dan berkembang dalam pengabdiannya kepada Ibu Pertiwi, selalu manunggal dan bersama-sama dengan rakyat. Dalam usia yang ke-67 telah banyak pengorbanan harta benda, keringat, air mata, tetesan darah dan bahkan pengorbanan jiwa raga dari para pendahulu, semua itu merupakan pengorbanan yang tulus iklas, tidak sia-sia demi kepentingan dan keharuman Bangsa Indonesia.

Pada peringatan HUT ke-67 Pangdam IX/Udayana selaku Inspektur Upacara membacakan amanat Panglima TNI, dengan semangat yang tinggi menyampaikan bahwa pada peringatan hari jadi yang ke-67, TNI menyatakan kebulatan tekad yang dituangkan didalam tema peringatan yaitu  “Dilandasi Profesionalisme, semangat juang dan soliditas TNI bersama segenap komponen Bangsa siap menjaga kedaulatan dan keutuhan Wilayah NKRI”.
Kebulatan tekad tersebut hendaknya tidak hanya menjadi jargon belaka namun harus menjadi pendorong yang kuat guna mewujudkan postur TNI yang benar-benar berjati diri.
Disamping itu Panglima TNI juga menyampaikan instruksi sebagai pesan moral guna meneguhkan hati dan menguatkan jiwa segenap prajurit TNI antara lain; mantapkan keimanan dan ketaqwaan kepata Tuhan Yang Maha Esa sebagai landasan moral dan etika dalam pelaksanaan tugas, tempatkan tugas diatas segala-galanya, junjung tinggi nilai semangat kebangsaan, tingkatkan kewaspadaan dan pegang teguh disiplin keprajuritan.
Selanjutnya selesai Upacara dilanjutkan dengan acara tambahan berupa pagelaran seni kolaborasi antara TNI, Polri dan Masyarakat antara lain, pentas Tari Rejang Renteng, Musik kolaborasi, Bondres, Tektekan/Okokan serta pragmen tari yang mengambil sempalan cerita “Prabu Udayana“. Pagelaran tari yang dipentaskan mampu menarik perhatian dan antusias para undangan dan hadirin lainnya meskipun suasana sudah mulai memanas. 
Peringatan HUT ini dihadiri oleh Para Pejabat Teras Kodam IX/Udayana, Perwakilan dari Korem 161/Wira Sakti, Korem 162/Wira Bhakti, Muspida Provinsi Bali, Muspida Kabupaten Klungkung, Bupati se-Bali, Para Sulinggih, Toga, Todat, Tomas, Ibu-Ibu Dharma Pertiwi, Perwakilan masyarakat dari masing-masing Kabupaten se-Bali dan undangan lainnya.

Minggu, 01 Januari 2012

4 Kunci Keberhasilan Hidup

Tidak seperti biasanya, pagi ini saya menghabiskan waktu di rumah. Yap, saya sedang berada di Sidoarjo. Kebetulan weekend dan cuti bersama saya habiskan untuk liburan ke rumah, mumpung ada kesempatan sebelum nanti rotasi domisili pekerjaan dimulai.

Ba’da subuh, ibu bercerita banyak tentang kehidupan keluarga pasca pensiunnya ayah sejak pertengahan Bulan Mei ini. Ibu bercerita dengan tenangnya bagaimana mereka berdua menghabiskan masa pensiun dengan sangat tenang. Setelah berbagai gelombang pasang surut kehidupan yang menguras pikiran, emosi, melelahkan fisik dan batin.
Ada ketenangan dan keberkahan yang tidak terbayar dengan harta berlimpah. Beberapa hal yang ibu syukuri antara lain, mulusnya “landing” ayah dari pekerjaan di kantornya. Tahu sendiri kan, saat ini banyak pejabat yang pasca pensiun masih diubek-ubek terkait masalah dan kasus di kantornya ketika mereka menjabat. Alhamdulillah ayah tidak. Semua masalah persis selesai tepat pada waktunya.
Ibu juga bersyukur di masa pensiun, hampir tidak ada sama sekali tekanan ekonomi yang berarti. Saya sendiri sudah bekerja dan lepas sepenuhnya dari tanggungan ortu. Adik saya yang masih kuliah sudah mendapatkan beasiswa penuh beserta living costnya dari Depag, disamping dia sudah mulai berbisnis sendiri. Sedangkan adik saya yang baru lulus kuliah walaupun masih mencari pekerjaan, namun masih cukup tercover dari pensiunan ayah.
Selain itu, beberapa cita-cita kedua orang tua sudah tercapai. Mulai dari naik haji, umrah kedua di masa pensiun, renovasi rumah, dan mengganti mobil keluarga yang lebih nyaman dengan tahun pembuatan yang baru serta pajak tahunan yang murah di akhir masa pensiun juga tercapai.
Selain itu tidak ada beban hutang yang mesti dibayar. Semua cicilan sudah lunas tepat pada waktunya. Dan itu masih menyisakan dana tabungan yang lebih dari cukup untuk jangka waktu yang lama dengan investasi logam mulia, yang akan menjaga nilainya dari inflasi ekonomi. 
Seluruh perencanaan mereka dalam menjalani kehidupan, BERHASIL!
Kini mereka berdua tinggal menikmati masa pensiunnya dengan tenang. Punya banyak waktu untuk lebih fokus dan meningkatkan kualitas dan kwantitas ibadah lebih baik lagi.

 Perencanaan Yang Berhasil
Di pagi itu, ibu kemudian mensharingkan 4 kunci yang selalu mereka pegang dalam menjalani kehidupan.

1. NIAT YANG SUNGGUH-SUNGGUH

Semua selalu berawal dari niat. Apakah kita punya niat yang sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu (goal, impian, tujuan, dll), ataukah hanya sekedar saja tanpa ada nilai disana. Sesuatu yang memiliki nilai, cenderung akan kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh daripada sekedar keinginan belaka.
Kadangkala kita juga perlu menata niat. Apakah goal yang kita inginkan hanya untuk kepentingan diri kita semata? Ataukah menyangkut kepentingan orang lain juga. Goal yang menyangkut orang lain dan bisa mendatangkan banyak manfaat, biasanya cenderung lebih mudah tercapai daripada yang hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Apalagi bila diniatkan sebagai ibadah.

2. KERJA KERAS

Niat sudah ada, pertanyaan selanjutnya apakah kita mau bekerja keras untuk mewujudkan apa yang kita inginkan tersebut? Jangan berharap hasil yang besar kalau kita maunya kerja santai. Mereka yang menikmati hidup dengan kerja santai, biasanya sudah membayar semuanya dengan kerja keras di awal. Persis seperti pesawat ulang alik NASA. Butuh sumber tenaga yang besar untuk dorongan di awal. Setelah mencapai titik orbitnya, sedikit saja tenaga yang dibutuhkan untuk bergerak.

Kerja Keras dan Perjuangan

3. DOA YANG KHUSYU’

Dunia ini dinamis. Selalu berubah. Naik dan turun, bagaikan roda kehidupan yang selalu berputar. Siapa yang tidak kuat, tentu akan tergilas saat berada di bawah dan tak mampu bertahan. Karena itu lah kita memiliki Tuhan, tempat untuk bergantung dan meminta pertolongan. Dia lah sumber energi terbesar yang akan selalu memberikan kita power tiada batas untuk terus melangkah dan menghadapi kerasnya kehidupan.
“Berdoalah dengan khusyu’. Mintalah apa yang kamu mau. Tapi jangan lupakan tugasmu sebagai hamba, untuk beribadah kepadanya. Di Al-Qur’an, Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa kita. Dan akan mengubah nasib kita, bila kita berjuang untuk mengubahnya.”
“Tidak akan berkurang kekuasaannya bila kamu tidak menyembahNya. Justru karena kita membutuhkan Allah, maka kita menyembah kepadaNya. Pada akhirnya, semua untuk kebaikan kita sendiri.”
Pertanyaannya adalah apakah kita hanya berdoa ketika susah? Masih ingatkah kita dan bersyukur kepadaNya disaat kita senang?

4. TAWAKKAL

Kalau sudah melakukan semuanya dengan maksimal, yang bisa kita lakukan adalah pasrah dan tawakkal kepadaNya. Biarkan Dia memilih, apakah yang kita perjuangkan itu benar-benar baik untuk kita ke depannya, atau malah membawa petaka dan masalah tiada henti.
Sungguh Tuhan Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Alangkah baiknya bila kita berpegang hanya kepadaNya. Dia lah sebaik-baik penuntun kehidupan.


Tawakkal
Bila sudah melakukan semuanya, namun hasil tak kunjung terlihat. Bersabar dan cobalah untuk ikhlas. Mungkin Tuhan punya rencana lain yang jauh lebih besar, lebih hebat dari yang kita minta. Semua akan indah tepat pada waktunya, bila kita pasrahkan kehidupan ini padaNya. Hampir tidak ada figur sukses yang tidak melibatkan Tuhan sebagai “partnernya” dalam berusaha.
Semoga sharing dan oleh-oleh liburan saya kali ini bermanfaat untuk kita semua, khususnya saya pribadi agar bisa mengikuti jejak keberhasilan orang tua.

Sabtu, 31 Desember 2011

Sebuah Catatan Penting Di Akhir Tahun

"Catatan Akhir Tahun" Catatan Kejadian Dan Pengalaman Penting Yang Terjadi Selama Satu Tahun !


Detik-detik pergantian tahun segera datang,tidak terasa sudah 1 (satu) tahun lagi kita melewati masa-masa hidup di dunia yang fana ini. Begitu banyak cerita dan pengalaman yang kita rasakan dalam rentetan kejadian-kejadian yang mungkin tanpa kita sadari sangat berharga dan sayang jika dilupakan begitu saja.

Ini adalah saatnya ! kita membuat sebuah catatan penting di akhir tahun. Karena,Banyak sekali kejadian penting dan berharga dari dalam dan luar negeri, sampai seluruh dunia. Dari dunia artis dan orang-orang terkenal,sampai dunia politik dan bisnis yang saya tidak mengerti sama sekali. Dan yang tidak kalah penting adalah kejadian dan peristiwa penting yang menyangkut keindahan alam dan daerah sekitar kita.

Apa yang kita alami pada kehidupan diri sendiri dan apa yang terjadi di sekitar kita kadang akan menjadi sangat berharga untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan pelajaran untuk menyambut hari baru dalam tahun-tahun yang akan datang. Sebuah catatan kecil di akhir tahun akan berpengaruh besar bila kita mau menjadikannya sebuah pedoman dan patokan dasar yang harus diterapkan dalam masa mendatang.

Apa salahnya jika kita membuat sebuah Catatan penting akhir tahun ! Sebuah catatan yang dimaksudkan untuk merangkum dan mengingatkan kita tentang kejadian penting apa saja yang sudah terjadi selama satu tahun ini.

Hidup Tidak Selalu Berjalan Mulus Dengan Apa Yang Di Harapkan


Saya percaya,bahwa ! apa yang anda alami dalam satu tahun ini kadang tidak sesuai dengan apa yang sudah anda harapkan. Ingat ! "Hidup bagaikan sebuah roda yang berputar" kadang kita berada diatas dan dilain waktu kita berada dibawah. Kebahagiaan datang silih berganti dengan kesedihan. Karena,kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan jika kita tidak pernah merasakan apa yang disebut dengan kesedihan.

Tahukah anda ? begitu banyak kejadian penting dan berharga dalam satu tahun yang sudah terlewati ini. Dari kejadian yang menyenangkan sampai kejadian buruk yang menyedihkan. Seperti terjadinya bencana alam dan kecelakaan yang menimpa saudara-saudara kita disana.

Sungguh beruntung bagi anda yang sudah melewati tahun ini penuh dengan kebahagiaan dan tanpa ada kesalahan sedikitpun. Tapi,bagi anda yang tidak seberuntung itu,ini adalah saatnya untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah terjadi dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik dan penuh dengan kebahagiaan.

Sebuah Catatan akhir tahun dapat kita jadikan sebagai bahan untuk mengenang dan juga untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah kita perbuat selama satu tahun yang terlewati. Agar tidak lagi terjadi dalam kehidupan kita dimasa yang akan datang menyambut penuh dengan harapan-harapan baru yang lebih baik dan dapat kita wujudkan "Semoga".

Sabtu, 17 Desember 2011

Hal Sepele, Tapi Membuat Kekasih Makin Cinta

Hal-hal kecil yang selama ini tak pernah terpikirkan, mungkin bisa memicu gairah romantis Anda dengan si dia. Hanya perlu sedikit usaha, Anda pasti bisa mendapatkannya. Hal-hal berikut ini memang tergolong sepele, namun pasangan Anda pasti akan merasa tersentuh saat mengetahui Anda bersedia meluangkan waktu untuk sekedar memperhatikannya.
 
Berikut ini hal – hal sepele yang membuat kekasih makin cinta :

Kirim pesan SMS khusus dengan kalimat 'I Love You' atau jika Anda sudah menikah, tinggalkan catatan kecil berisi pesan 'Aku Cinta Padamu' di atas bantalnya. 

Tunjukkan rasa cinta dengan sekedar menggandeng atau merangkulnya dengan mesra saat sedang berjalan di tempat umum.

Berikan pujian kepada pasangan Anda. Misalnya pada penampilan rambutnya, pakaiannya atau sekedar mengatakan 'cantik sekali kamu hari ini'. Intinya, buatlah ia merasa cantik dan spesial di mata Anda.

Berikan sebuah pelukan hangat dan mesra kepada pasangan Anda.

Petik sekuntum bunga liar dan berikan padanya yang disertai dengan kecupan hangat dari Anda.

Ucapkan kata-kata 'sayang' sekurang-kurangnya dua hari sekali.

Beri si dia surprise dengan menelepon atau menghubunginya secara spontan, hanya untuk mengatakan 'Aku Sedang Memikirkanmu'. 

Pijat punggung atau kakinya dengan lembut, setelah ia letih bekerja seharian.

Ingat, jika Anda sering meluangkan waktu untuk sekedar memperhatikannya, hal ini bisa memicu suasana yang romantis antara Anda dan pasangan.

Rabu, 16 November 2011

Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.
Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.
Hukum Shalat ‘Ied
Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim[1]. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,
أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.“[2]
Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).[3]
Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukannya.
Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.
Ketiga: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,
 
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.
Keempat: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. –Demikian penjelasan Shidiq Hasan Khon yang kami sarikan-.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah pendapat yang lemah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. … Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?”[4]


Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied
Menurut mayoritas ulama –ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali-, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak[5] sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat).[6]
Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan shalat ‘Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha. Ibnu ‘Umar yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”[7]
Tujuan mengapa shalat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fithri.[8]


Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied
Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan,
  
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.“[9]

An Nawawi mengatakan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”[10]


Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied
Pertama: Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”[11]
Kedua: Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”[12]
Ketiga: Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.
Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”[13]
Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.[14]
Keempat: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan,

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”[15]
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”[16]


Tata cara takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan:
[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.[17]
[2] Di antara lafazh takbir adalah,

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[18]
Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar“, itu juga diperbolehkan.[19]
Kelima: Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.
Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab,

نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ

Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.”[20]
Keenam: Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.“[21]
Ketujuh: Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.“[22]


Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.“[23]


Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied
Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.

“Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”[24]
Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”[25]


Tata Cara Shalat ‘Ied
Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.[26]
Pertama: Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.
Kedua: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”[27]

Ketiga: Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”[28] Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي

Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah Ta’ala.
Keempat: Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Ia pun menjawab,

كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca “Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan “Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qomar).”[29]
Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa) dan “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[30]
Kelima: Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).
Keenam: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.
Ketujuh: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.
Kedelapan: Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Kesembilan: Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.


Khutbah Setelah Shalat ‘Ied
Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ – رضى الله عنهما – يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”[31]
Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).[32] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.[33] Beliau pun memulai khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.”[34]
Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”[35]

Ucapan Selamat Hari Raya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya“. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”
Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at
Bila hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair.
Dalil dari hal ini adalah:
Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».

“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”[36]
Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[37] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.[38]
Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[39]


Catatan:
Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied dan shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[40] Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari ‘ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.
Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at.[41]
Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai panduan shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Semoga bermanfaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.